• Konsentrasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) makin mengkhawatirkan, dengan Desa Bagendang Tengah, Kecamatan Mentaya Hilir Utara (MHU) menjadi titik paling membara.
• Hingga Senin (21/9/2026) pukul 16.00 WIB, terdeteksi 454 titik panas (hotspot) di Bagendang Tengah, menyumbang sekitar 29 persen dari total 1.563 hotspot di seluruh Kotim.
• Kecamatan Mentaya Hilir Utara memimpin sebagai wilayah dengan hotspot terbanyak di Kotim, mencapai 608 titik (574 kepercayaan menengah, 20 tinggi, 14 rendah).
• Konsentrasi hotspot yang tinggi di Bagendang Tengah dianggap alarm bahaya karena wilayah tersebut merupakan koridor ekonomi strategis.
• Satgas Karhutla dan BPBD Kalteng didesak segera memprioritaskan water bombing dan pengerahan armada darat ke Desa Bagendang Tengah dan Bagendang Hilir.
• Kepolisian bersama Gakkum LHK diminta mengusut tuntas pemicu konsentrasi ratusan titik panas ini, terutama di tengah masa perpanjangan status Tanggap Darurat Bencana.
SAMPIT, Kanalindependen.id – Konsentrasi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) makin mengkhawatirkan. Desa Bagendang Tengah, Kecamatan Mentaya Hilir Utara (MHU), resmi menjadi titik paling membara setelah terdeteksi sebanyak 454 titik panas (hotspot) dalam kurun waktu 24 jam.
Berdasarkan rekapitulasi data satelit BMKG dan BPBD Kotim hingga Senin (21/9/2026) pukul 16.00 WIB, angka di Bagendang Tengah tersebut menyumbang sekitar 29 persen dari total 1.563 hotspot yang mengepung seluruh wilayah Kotim.
Kecamatan Mentaya Hilir Utara memimpin sebagai wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak di Kotim, yakni mencapai 608 titik. Angka tersebut terdiri dari 574 titik berkepercayaan menengah, 20 titik berkepercayaan tinggi, dan 14 titik berkepercayaan rendah.
“Konsentrasi hotspot di Bagendang Tengah menjadi yang tertinggi di Kotim dengan 454 titik. Secara keseluruhan di Kotim terdeteksi 1.563 hotspot, di mana 1.503 titik berada pada tingkat kepercayaan menengah, 30 titik tingkat kepercayaan tinggi, dan 30 titik tingkat kepercayaan rendah,” rilis BMKG dan BPBD Kotim, Senin (21/9/2026).
Sebaran hotspot di tingkat desa menunjukkan dominasi kawasan selatan dan pinggiran perkotaan. Setelah Bagendang Tengah dengan 454 titik, Desa Bagendang Hilir mencatat 120 hotspot, disusul Desa Hanaut di Kecamatan Pulau Hanaut sebanyak 118 hotspot. Selanjutnya, Kelurahan Baamang Hulu mencatat 102 hotspot, Desa Lampuyang 86 hotspot, serta Desa Bangkuang Makmur di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang sebanyak 72 hotspot.
Secara pemetaan kecamatan, Pulau Hanaut berada di posisi kedua setelah Mentaya Hilir Utara dengan 330 hotspot. Kecamatan Mentawa Baru Ketapang menyusul dengan 159 titik, Baamang 131 titik, serta Teluk Sampit 99 titik. Tingginya angka hotspot hasil sensor satelit ini menjadi indikator krusial yang membutuhkan verifikasi serta penanganan darurat langsung di lapangan.
Penumpukan 454 hotspot hanya di satu desa seperti Bagendang Tengah menjadi alarm bahaya tingkat tinggi bagi Satgas Karhutla Kotim. Mengingat kawasan Mentaya Hilir Utara merupakan koridor ekonomi strategis yang menampung fasilitas pelabuhan CPO dan bongkar muat logistik, pembiaran kebakaran gambut di wilayah ini berpotensi merembet serta menghentikan total denyut nadi perekonomian daerah.
Dua penekanan kritis dari Kanal Independen:
Satgas Karhutla dan BPBD Kalteng didesak untuk segera memprioritaskan penuangan air (water bombing) serta pengerahan armada darat ke Desa Bagendang Tengah dan Bagendang Hilir guna memutus lidah api. Selain itu, kepolisian bersama Gakkum LHK wajib mengusut tuntas pemicu konsentrasi ratusan titik panas ini untuk memastikan tidak ada praktik pembakaran lahan secara masif di tengah masa perpanjangan status Tanggap Darurat Bencana. (***)