• Camat Baamang, Sufiansyah, meninggal dunia pada Kamis, 26 Maret 2026, pukul 14.27 WIB di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Murjani, Sampit.
• Almarhum dikenal sebagai birokrat berdedikasi tinggi yang meniti karier dari staf hingga memimpin dua kecamatan selama tiga dekade, menjabat Camat Baamang sejak 1 Maret 2023.
• Meskipun dalam kondisi sakit sejak pertengahan Ramadan, Sufiansyah tetap aktif bekerja, termasuk hadir mendampingi kunjungan kerja Gubernur Kalimantan Tengah di Sampit.
• Pada Rabu, 4 Februari 2026, ia memimpin Musrenbang RKPD Kecamatan Baamang, memprioritaskan pembangunan jalan, penanganan banjir melalui pemeliharaan drainase, dan mencari solusi pendanaan berlapis.
• Sufiansyah juga menekankan pentingnya penataan Pasar Keramat dan mengajak masyarakat untuk bergotong royong membersihkan drainase.
• Ia meninggalkan pesan agar fokus pada penguatan pelayanan pemerintahan dan memastikan pelayanan kepada masyarakat berjalan maksimal serta wilayah tertata baik.
SAMPIT, kanalindependen.id – Ruang kerja Camat Baamang kini menyisakan keheningan. Kursi pimpinan itu resmi kosong setelah Sufiansyah mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Murjani, Sampit, Kamis (26/3/2026) sekitar pukul 14.27 WIB.
Kepergiannya memicu respons empati masif dari para kolega. Meninggalkan serangkaian jejak pengabdian yang membumi. Mulai dari lembar usulan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang), angan-angan menata kawasan pasar, hingga pesan-pesan terakhir yang ia titipkan.
Sufiansyah tumbuh menjadi birokrat bukan dari jalur instan. Ia merangkak menapaki hampir seluruh anak tangga pemerintahan dari akar terbawah.
Bermula sebagai staf Kantor Cabang Dinas Perikanan, ia meniti jalan panjang menjadi kepala subbagian kepegawaian, kepala urusan pembangunan, lurah, sekretaris camat, hingga memimpin dua kecamatan berbeda.
Tiga dekade perjalanannya membentuk satu filosofi khas. Jabatan adalah alat ukur tentang apa yang bisa dikerjakan untuk meringankan beban warga.
Langkah Terakhir di Tengah Rasa Sakit
Dedikasi Sufiansyah pada tugas kepemerintahan rupanya melampaui kondisi fisiknya. Kabar duka yang menyebar cepat di jaringan komunikasi perangkat daerah turut menguak memori tentang ketangguhannya di masa-masa terakhir.
Lurah Baamang Barat, Arya Agus Wardhana, merekam jelas keteguhan tersebut. Pagi hari sebelum sang camat berpulang, sekitar pukul 10.30 WIB, Arya bersama Bupati Kotim Halikinnor dan sejumlah pejabat masih sempat menjenguk almarhum di ruang perawatannya.
Menurut penuturan Arya, kondisi kesehatan Sufiansyah sebenarnya sudah mulai menurun sejak memasuki bulan suci Ramadan.
Walaupun kondisi fisiknya membatasi ruang gerak sejak pertengahan Ramadan, ia tetap memaksakan diri datang ke kantor meski tak lagi mampu menuntaskan jam kerja secara penuh.
Puncak pembuktian dedikasi itu terlihat saat kunjungan kerja Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran di Sampit. Fisik yang melemah tidak menyurutkan semangatnya untuk mendampingi agenda pimpinan daerah.
”Pada saat kunjungan kerja Gubernur di Sampit, beliau tetap berusaha hadir, meski sambil dibantu berjalan,” ujar Arya mengenang ketangguhan rekannya sesama abdi negara tersebut.
Suara dari Genangan Air di Panggung Terakhir
Mundur kurang dari dua bulan sebelum wafat, tepatnya Rabu (4/2/2026), Sufiansyah masih berdiri tegak memimpin Musrenbang RKPD tingkat Kecamatan Baamang. Forum tempat suara warga, kelurahan, dan desa se-Baamang bertemu dengan meja perencanaan daerah itu menjadi salah satu agenda publik terakhirnya yang terekam dalam pemberitaan.
Infrastruktur dan jerit warga soal banjir mendominasi denyut aspirasi hari itu.
”Hasil Musrenbang dibacakan dari beberapa pokja, baik pokja ekonomi, dukungan pemerintahan dan kesejahteraan sosial, maupun pokja sarana dan prasarana,” kata Sufiansyah usai forum, seperti dikutip dari pemberitaan media.
Perhatiannya tertuju lekat pada wilayah pelosok.
”Desa Tinduk memprioritaskan pembangunan jalan karena akses aspalnya memang belum tembus sampai ke desa, sehingga itu menjadi prioritas utama. Sementara kelurahan lain, pada tahun 2026 sudah cukup banyak kegiatan sapras yang dilaksanakan,” jelasnya memberikan arah kebijakan.
Pemeliharaan drainase di jalur rawan genangan menjadi beban pikiran utamanya. Perhatiannya tertuju pada pemeliharaan drainase di jalur rawan genangan, yakni Jalan Walter Condrat, Kenan Sandan, dan Muchran Ali.
”Beberapa hari terakhir, curah hujan tinggi ditambah pasang sungai menyebabkan genangan di sejumlah ruas jalan, khususnya di Baamang Tengah, seperti Jalan Al Kamal dan Jalan Cristopel Mihing di depan Panti Asuhan Bahagia. Drainase ini menjadi skala prioritas yang sangat penting,” ujarnya dengan penekanan kuat.
Menghadapi keterbatasan kas daerah, ia memutar otak mencari jalan keluar pendanaan berlapis.
”Tidak semua aspirasi bisa dibiayai melalui APBD kabupaten. Nantinya, dinas teknis diharapkan dapat mengusulkan ke provinsi maupun pusat. Selain itu, kelurahan juga memiliki dana kelurahan yang bisa dimanfaatkan, bahkan melalui swadaya bersama masyarakat,” katanya memetakan solusi.
Pasar Keramat dan Seruan Gotong Royong
Hanya berselang lima hari, Senin (9/2/2026), figur pelayan masyarakat ini kembali memimpin serah terima sejumlah pejabat di lingkup Baamang. Momen krusial tersebut ia gunakan untuk menajamkan arah pelayanan publik dan penataan kawasan strategis.
Pasar Keramat terucap spesifik dari bibirnya sebagai pekerjaan rumah bersama. ”Penataan Pasar Keramat harus dilakukan dengan koordinasi lintas sektor. Tidak bisa sendiri, harus melibatkan Satpol PP dan stakeholder terkait lainnya,” katanya.
Terkait ancaman banjir, Sufiansyah menolak berpangku tangan pada mesin birokrasi dan terus membakar semangat warga.
”Beberapa hari lalu ada genangan di Pasar Al-Kamal dan Jalan Cristopel Mihing. Ini jadi pengingat bahwa drainase kita harus dibenahi bersama,” ujarnya.
Pesan berikutnya adalah seruan aksi. ”Harus mengakomodir peran RT dan masyarakat. Gotong royong membersihkan drainase itu kunci. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri,” tegasnya.
Wasiat Pelayanan Sebagai Inti Pengabdian
Bagi Sufiansyah, urat nadi pemerintahan adalah pelayanan itu sendiri. “Kami ingin memperkuat pelayanan pemerintahan wilayah Kecamatan Baamang, karena masih banyak yang kurang, terutama terkait sumber daya manusia dan sarana prasarana. Tujuan kami adalah meningkatkan pelayanan pemerintahan yang lebih efektif dan efisien, sehingga dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat,” ujarnya.
Prinsip tersebut ia gaungkan tanpa lelah. Saat menutup prosesi sertijab pejabat kelurahan, ia melontarkan teguran halus yang kini penuh makna.
”Perubahan struktur aparatur bukan sekadar soal formasi personel, tetapi harus berdampak langsung pada kualitas layanan kepada masyarakat dan efektivitas pengelolaan wilayah,” kata Sufiansyah, Senin (9/2/2026), sebagaimana dikutip dari Kalteng Pos.
Satu kalimat meluncur darinya, yang hari ini terasa bagaikan sebuah wasiat tak tertulis.
”Yang paling penting bukan siapa orangnya, tapi bagaimana pelayanan ke masyarakat berjalan maksimal dan wilayah tertata dengan baik,” katanya.
Amanat itu ia kunci secara khusus kepada para ujung tombak pemerintahan. “Saya tekankan kepada lurah, terutama di Baamang Tengah dan Baamang Hilir, agar benar-benar fokus pada pelayanan masyarakat. Itu yang utama,” tegasnya.
Tiga Dekade Jejak Pengabdian
Ketulusan kalimat-kalimat tersebut lahir dari peluh mengabdi. Catatan resmi Badan Kepegawaian Negara (BKN) merekam langkah pertamanya berseragam abdi negara di Kantor Cabang Dinas Perikanan Kabupaten Kotawaringin Timur pada 1 Maret 1994.
Kariernya bertumbuh dari bawah: Kepala Sub Bagian Kepegawaian Kecamatan Teluk Sampit (2008), Kepala Urusan Pembangunan Kelurahan Baamang Hilir (2012), Lurah Baamang Hulu untuk dua periode (2012 dan 2016), Sekretaris Kecamatan Baamang (2018), Camat Pulau Hanaut (2021), hingga kembali pulang memimpin Kecamatan Baamang sejak 1 Maret 2023.
Gelar sarjana manajemen ia rengkuh dari STIE Sampit pada 2003, sebuah potret kegigihannya membagi waktu antara bangku kuliah dan tugas melayani warga. Puncak kepangkatannya tertulis sebagai Pembina Tingkat I, golongan IV/b, yang diraih pada 1 Oktober 2025—hanya lima bulan sebelum sang Khalik memanggilnya pulang.
Sufiansyah telah merampungkan tugasnya di dunia. Sejumlah pekerjaannya masih tertinggal menanti wujud nyata. Sosok pekerja keras itu telah tiada.
Namun, kalimat yang ia ucapkan pada 9 Februari 2026—hanya 45 hari sebelum ia wafat—akan terus menggema mengetuk nurani siapa saja yang kelak menduduki kursi kosong di kantor kecamatan tersebut. (hgn/ign)