• Satelit Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi 719 titik panas (hotspot) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dalam 24 jam terakhir hingga Rabu (19/8/2026) pukul 16.00 WIB.
• Rincian tingkat kepercayaan titik panas tersebut meliputi 70 titik berstatus tinggi, 630 titik menengah, dan 19 titik rendah.
• Wilayah selatan Kotim menjadi penyumbang terbesar, dengan Kecamatan Mentaya Hilir Selatan mencatat 272 titik, disusul Baamang (128 titik) dan Mentawa Baru Ketapang (91 titik).
• Peningkatan jumlah titik panas dengan kepercayaan menengah hingga tinggi ini menjadi indikasi kuat potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kotim, khususnya kawasan pesisir dan lahan gambut.
• Masyarakat dan pihak terkait diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, menghindari pembakaran lahan sembarangan, dan segera melaporkan potensi titik api kepada petugas setempat.
SAMPIT, Kanalindependen.id — Satelit Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat lonjakan tajam pemantauan titik panas (hotspot) di Kabupaten Kotawaringin Timur. Dalam kurun waktu 24 jam terakhir hingga Rabu (19/8/2026) pukul 16.00 WIB, terdeteksi sebanyak 719 titik panas yang tersebar di berbagai wilayah.
Dari total akumulasi tersebut, rincian tingkat kepercayaannya meliputi 70 titik berstatus tinggi, 630 titik berstatus menengah, dan 19 titik berstatus rendah.
Berdasarkan data rekapitulasi Stasiun Meteorologi H. Asan Sampit, wilayah bagian selatan Kotim menjadi penyumbang terbesar titik panas kali ini. Kecamatan Mentaya Hilir Selatan menduduki posisi tertinggi dengan total 272 titik, yang terdiri dari 6 titik kepercayaan rendah, 228 menengah, dan 38 tinggi.
Lonjakan data tersebut disusul oleh Kecamatan Baamang dengan 128 titik, di mana 12 di antaranya berstatus kepercayaan tinggi, serta Kecamatan Mentawa Baru Ketapang yang mencatatkan 91 titik.
Peningkatan jumlah titik panas dengan tingkat kepercayaan menengah hingga tinggi ini menjadi indikasi kuat meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kotim, khususnya pada kawasan pesisir dan lahan gambut.
Oleh karena itu, masyarakat beserta pihak terkait diimbau untuk terus meningkatkan kewaspadaan, menghindari aktivitas pembakaran lahan secara sembarangan, serta segera melaporkan potensi titik api kepada petugas penanggulangan bencana setempat guna meminimalkan risiko kabut asap yang lebih luas. (***)